Bagaimana membuat aplikasi android dengan arsitektur MVP ?

Artikel ini merupakan repost dari artikel tulisan Eminarti Sianturi yang dipublikasikan di Easyread. Baca artikel sumber.


Halooo.. Beberapa waktu yang lalu salah seorang junior saya dikampus dulu bertanya mengenai pengembangan aplikasi Android menggunakan arsitektur MVP. Setelah memberi beberapa penjelasan singkat kepada dia, saya menjadi tertarik untuk membuat beberapa tulisan mengenai pengembangan aplikasi Android dengan arsitektur MVP. Mungkin sudah banyak sumber yang dapat kita jadikan referensi membuat aplikasi Android dengan arsitektur MVP, tetapi tidak ada salahnya saya juga menulisnya, bukan? 😃
Tulisan-tulisan yang saya buat kali ini merupakan sebuah seri yang saya beri judul Android MVP Series”. Nah, oke mari kita mulai saja.

Apa itu MVP Arsitektur?

Model-View-Presenter atau yang biasa disingkat menjadi MVP adalah sebuah konsep arsitektur pengembangan aplikasi yang memisahkan antara tampilan aplikasi dengan proses bisnis yang bekerja pada aplikasi. Arsitektur ini akan membuat pengembangan aplikasi kita menjadi lebih terstuktur, mudah di-test dan juga mudah di-maintain.

Berikut penjelasan masing-masing layer pada MVP.
View, merupakan layer untuk menampilkan data dan interaksi ke user. View biasanya berupa Activity, Fragment atau Dialog di Android. View ini juga yang langsung berkomunikasi dengan user.
Model, merupakan layer yang menunjuk kepada objek dan data yang ada pada aplikasi.
Presenter, merupakan layer yang menghubungkan komunikasi antara Model dan View. Setiap interaksi yang dilakukan oleh user akan memanggil Presenter untuk memrosesnya dan mengakses Model lalu mengembalikan responnya kembali kepada View.

Nah sebenarnya apasih manfaat dari penerapan arsitektur seperti ini?

Pada penjelasan diatas, pemisahan kode program berdasarkan fungsi dapat membuat struktur kode kita lebih rapi dan tentu saja lebih mudah di-test. Seperti yang kita ketahui, berbagai View yang kita gunakan biasanya bergantung keras (tighly-coupled) dengan library Android, sehingga kita akan kesulitan untuk melakukan testing pada aplikasi kita, misalnya unit testing. Dengan struktur pengembangan aplikasi ini, kita dapat membuat aplikasi kita lebih maintainable dan testable.

Bagaimana Implentasinya?

Pada seri tulisan saya kali ini, saya membuat sebuah proyek sederhana yang akan menjadi acuan saya dalam menulis setiap part-nya. Selain itu saya juga memakai beberapa library yang memudahkan dalam membuat aplikasi Android, yaitu:
Butter Knife, merupakan library yang membantu untuk menyederhanakan penulisan komponen view di Android. Biasanya saat mendeklarasikan sebuah komponen view, maka kita akan memakai findViewById. Dengan butter knife penulisannya akan lebih sederhana.
Dagger, merupakan library yang digunakan untuk proses Injection pada aplikasi kita. Merupakan penerapan Dependency Injection. Biasanya saat membuat sebuah objek, kita juga membutuhkan objek lain pada instansiasi objek tersebut, jika tanpa dependency injection maka setiap kita melakukan instansiasi objek maka kita juga harus membuat objek-objek yang lain dibutuhkan sehingga kode kita akan kotor dan sulit dipahami.

Baca Juga  Top 5 Sistem Operasi Open Source untuk Perangkat IoT

Selain memakai arsitektur MVP, aplikasi Android yang saya bangun juga menerapkan Repository Pattern. Yang dimaksud dengan Repository disini adalah sebuah abstraksi dari data layer yang berfungsi mengatur aliran data pada aplikasi. Repository ini biasanya berupa sebuah interface yang memiliki beberapa method dimana class yang mengimplementasikannya akan mengimplementasikan method-nya juga. Repository inilah yang nantinya akan dipakai oleh presenter untuk proses pengolahan data.

Contract Class

Nah, misalnya seperti contoh aplikasi yang saya bangun disini, aplikasi List Film. Pada aplikasi ini kita dapat melihat daftar film yang disediakan oleh API Studio-Ghibli. Pertama kita dapat membuat sebuah activity atau fragmentsebagai tampilan aplikasi kita.

Baca Juga  Samsung Siap Rilis Ponsel dengan Baterai Graphene Tahun Depan?

Disini belum ada implementasi antara presenter dan view. Untuk membuatnya, mari kita deklarasikan sebuah Contract Class yang merupakan sebuah interface, dimana didalam class ini kita akan membuat interface Presenter dan View yang nantinya akan dipakai oleh View yang tadi. Sebelumnya saya juga membuat sebuah Base class untuk Presenter dan View yang berisikan method umum.

public interface BaseView<T> {
    void setPresenter(T presenter);
}
public interface BasePresenter {
    void start();
}

Kamu boleh menambahkan apa saja pada base class sesuai kebutuhan kamu, begitu juga untuk setiap contract class diatas, kamu boleh menambahkan method atau interface lain tergantung kebutuhan. Sekarang, interface View yang ada pada contract class tadi kita impelementasikan pada Activity atau Fragment kita yang tadi.

public class FilmFeedFragment extends Fragment implements FilmFeedContract.View {

    private FilmFeedContract.Presenter presenter;

    @Override
    public void onAttach(Context context) {
        super.onAttach(context);
        // instansiasi presenter
        new FilmFeedPresenter(this, repository);
    }
    @Override
    public void onResume() {
        super.onResume();
        // call presenter
        if (presenter != null) {
            presenter.start();
        }
    }

    @Override
    public void setPresenter(FilmFeedContract.Presenter presenter) {
        this.presenter = presenter;
    }

    @Override
    public void setItemToView(List<Film> list) {
        //implementasi view
    }
}

Sekarang Activity atau Fragment ini sudah mengimplementasikan interfaceView yang ada pada contract class dan proses pengolahan ada akan diserahkan ke presenter melalui method presenter.start . Lalu bagaimana dengan di Presenter?

Nah, dipresenter inilah kita akan merespon setiap interaksi yang dilakukan user pada aplikasi kita. Misalnya seperti menampilkan data. Pada kode diatas, kita dapat melihat impelementasi interface Presenter yang ada di contract class tadi. Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa kita menggunakan repository untuk komunikasi data, maka disini method loadData() akan memanggil repository.

Selain remote, kita juga dapat memiliki data dari lokal, dan tentu saja kita dapat menambahkannya pada aplikasi kita dan impelementasikan interface method yang ada pada data source yang tadi. Setelah presenter memanggil repository untuk mendapatkan data, dan pada repository, akan memanggil remote data source, dan dikembalikan melalui callback, maka kita memperoleh data yang akan ditampilkan pada Activity atau Fragment kita

@Override
public void loadData() {
    repository.getFilm(new FilmDataSource.LoadDataCallback() {
        @Override
        public void onDataLoaded(List<Film> films) {
            view.setItemToView(films);
        }
    });
}

Dapat kita lihat pada callback onDataLoaded() kita akan memanggil view.setItemToView() yang sebelumnya sudah kita implementasikan pada Activity kita. Jadi sekarang giliran Activity kita yang akan melakukan proses rendering view dengan data yang dikembalikan oleh presenter.

Nah, kira-kira begitulah gambaran dari implementasi arsitektur MVP yang saya gunakan pada aplikasi saya. Untuk pengembangan selanjutnya, dapat kamu lihat pada repo ini memorize. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kamu yang ingin mencoba. Kamu juga dapat melihat beberapa sumber dan implementasikan sesuai yang kamu mengerti. Pada dasarnya, pengertian dari arsitektur inilah yang perlu kamu pahami, bagaimana kamu mengimplementasikannya, mungkin boleh kamu coba sendiri. Happy Learning! 😃

 

Baca Juga  Inilah Top 5 Game Dengan Kisah Bertahan Hidup!



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.