Professor Shao-Quan Liu dan mahasiswa doktoral Ms Weng-Chan Vong dari NUS Food Science and Technology Program menciptakan minuman okara yang kaya nutrisi dan bermanfaat bagi usus. Kredit: Universitas Nasional Singapura.

 

Para ilmuwan pangan di National University of Singapore (NUS) telah memberikan kehidupan kedua bagi okara,residu dari produksi susu kedelai dan tahu yang biasanya dibuang, dengan mengubahnya menjadi minuman menyegarkan yang mengandung probiotik hidup, serat makanan, bebas isoflavon dan asam amino. Dengan membungkus nutrisi ini ke dalam minuman, mereka dapat dengan mudah diserap ke dalam tubuh, dan meningkatkan kesehatan usus.

Probiotik ini dibuat dengan menggunakan proses nol-limbah yang dipatenkan. Minuman lezat ini pun dapat disimpan pada suhu kamar hingga enam minggu. Ini tidak seperti minuman probiotik yang tersedia secara komersial yang terutama berbahan dasar susu dan membutuhkan pendinginan untuk mempertahankan tingkat probiotik hidup mereka.

“Okara memiliki bau dan rasa yang tidak enak, baunya amis, rasanya hambar, dan memiliki tekstur yang berpasir. Terobosan kami terletak pada kombinasi unik dari enzim, probiotik dan ragi yang bekerja bersama untuk membuat okara kurang berpasir, dan memberikan aroma buah sambil menjaga probiotik hidup. Produk akhir kami menawarkan alternatif bergizi non-susu yang ramah lingkungan, “kata supervisor proyek Associate Professor Shao-Quan Liu, yang berasal dari Program Sains dan Teknologi Pangan di Fakultas Sains NUS.

Mengubah ampas kedelai menjadi minuman bergizi

Sekitar 10.000 ton okara diproduksi setiap tahun di Singapura. Karena mudah rusak, menyebabkannya mengeluarkan bau yang tidak sedap dan rasa asam.  Okara biasanya dibuang oleh produsen makanan kedelai sebagai limbah makanan.

Penggunakan fermentasi untuk menghasilkan minuman okara diutarakan oleh Ms Weng-Chan Vong, mahasiswa Ph.D. dari Program Sains dan Teknologi Pangan NUS. Dia mengisahkan, “Produk kedelai yang difermentasi, seperti pasta kedelai dan miso, adalah hal yang biasa dalam budaya makanan Asia. Ketika saya masih muda, kakek saya menjelaskan kepada saya bagaimana makanan fermentasi ini dibuat. Proses fermentasi seperti sihir bagi saya, mengubah makanan hambar menjadi sesuatu yang lezat.”

“Selama studi sarjana di NUS, saya bekerja di sebuah proyek untuk memeriksa bagaimana susu kedelai dapat dimasukkan ke dalam makanan yang berbeda. Saya menyadari bahwa banyak sekali jumlah okara yang dibuang. Saya sadar bahwa fermentasi bisa menjadi salah satu cara yang terbaik untuk mengubah okara yang tidak diinginkan menjadi sesuatu yang bergizi dan rasanya enak,” tambahnya.

Di bawah bimbingan Assoc Prof Liu, Ms Vong membutuhkan satu tahun untuk menyusun resep mengubah okara menjadi minuman sehat. Dia bereksperimen dengan 10 ragi yang berbeda dan empat enzim berbeda sebelum menemukan kombinasi yang ideal.

Resep terakhir menggunakan strain probiotik Lactobacillus paracasei L26, enzim Viscozyme L dan Lindnera saturnus NCYC 22 ragi untuk mengubah okara menjadi minuman bergizi yang mencapai minimal 1 miliar probiotik per porsi. Itu merupakan jumlah rekomendasi dari International Scientific Association for Probiotic untuk mencapai manfaat kesehatan maksimal. Minuman yang memakan waktu sekitar satu setengah hari untuk diproduksi ini juga mengandung isoflavon. Isoflavon merupakan antioksidan alami yang menjaga kesehatan kardiovaskular, serta serat makanan dan asam amino.

Langkah selanjutnya: Menetapkan resep untuk komersialisasi

Para peneliti NUS saat ini bereksperimen dengan berbagai enzim dan mikroorganisme untuk menyempurnakan resep mereka. Mereka juga berniat untuk berkolaborasi dengan mitra industri untuk memperkenalkan minuman tersebut kepada konsumen.

“Dalam beberapa tahun terakhir, industri makanan dan minuman telah mengintensifkan inovasi pengembangan produk yang menarik bagi konsumen. Produk baru kami menawarkan konsumen untuk memanfaatkan limbah makanan, yang tentunya menyehatkan dan ramah lingkungan,” kata Assoc Prof Liu.

(DWK)

Baca Juga  Apa yang Membuat Pengalaman Berbelanja Online Menjadi Memuaskan?



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *