Teknologi.id – Bencana-bencana dalam dunia penerbangan yang selalu meneror bertahun-tahun agaknya memang harus segera ditemukan solusinya.

Terkait insiden pesawat jatuh Lion Air PK-LQP JT610 pekan lalu, konsep lama tentang teknologi kabin pesawat yang dapat dilepas digaungkan kembali. Ide ini dulu dicetuskan oleh Vladimir Tatarenko, yang telah diperdebatkan sejak akhir 2015.

Penemu asal Ukraina itu membuat ide gila pesawat dengan kabin penumpang yang dapat dilepas dan memisahkan diri dari pesawat, lalu mendarat aman dengan parasut saat terjadi keadaan darurat di angkasa.

Jatuh dari langit memang menjadi ketakutan terburuk bagi sebagian besar penumpang ketika mereka naik pesawat. Tapi apakah ide Vladimir Tatarenko itu benar-benar menjamin keamanan terbang?

Herve Morvan, Profesor Mekanika Fluida Terapan Fakultas Teknik Universitas Nottingham, Inggris, telah menanggapi ide gila Vladimir Tatarenko ini pada 2016 melalui artikelnya yang diterbitkan di The Independent dan The Conversation selang sebulan setelah video Tatarenko viral.

Baca Juga  Video 3 Sebab Mengapa 90% Pebisnis Online Gagal

Membingungkan

Sebagai seseorang yang sangat tertarik dengan desain dan teknologi pesawat terbang, Herve mengganggap ide itu sebagai hal yang membingungkan. Tidak hanya desain yang sangat menguras biaya, tetapi juga tidak mungkin diterapkan untuk menyelamatkan nyawa dalam bencana penerbangan seperti divisualisasikan dalam video Tatarenko.

Dalam video itu, kabin dapat dilepas saat pesawat mengalami kerusakan mesin di langit. “Pertama-tama harus dicatat pesawat jatuh karena masalah ini sangat jarang terjadi. Sistem dan gangguan listrik hanya menyumbang kurang dari 3% dari semua kecelakaan fatal dalam 10 tahun terakhir,” kata Herve.

Dalam banyak insiden buruk penerbangan, jelas Herve, pesawat udara memiliki kerentanan saat lepas landas dan mendarat. Pada saat lepas landas dan mendarat itulah, pesawat juga masih berada dalam kecepatan rendah sehingga lebih sulit dilakukan manuver.

Baca Juga  5 Bahasa Pemrograman Hebat yang Kurang Diminati untuk Dipelajari

Menurut statistik yang dirilis Boeing, hampir tiga perempat kematian akibat kecelakaan pesawat terbang antara 2005 dan 2014 terjadi selama fase-fase tersebut. Padahal insiden pada fase penerbangan inilah yang paling tepat untuk penerapan ide penyelamatan penumpang ala Tatarenko.

Mengandalkan pilot

Namun demikian, statistik mencatat 1.000 kematian dalam sepuluh tahun terakhir karena kecelakaan yang terjadi selama fase jelajah terbang. Di fase inilah kabin yang bisa dilepas mungkin memiliki fungsi penyelamat yang sangat besar. Namun pada fase jelajah ini, Herve juga menilai ide Tatarenko sulit diterapkan dan malah bisa membahayakan penumpang.

Sebagian besar kecelakaan pesawat, atau sebanyak 80%, disebabkan human error (kesalahan manusia) yakni dengan hilangnya kendali pesawat dan terbang ke arah yang keliru.

“Kabin yang bisa dilepas tidak mungkin diterapkan dengan aman jika pilot kehilangan kendali atas pesawatnya,” kata pria yang juga menjadi Direktur Institut Teknologi Aerospace di Inggris itu.

Baca Juga  Ilmuwan Ciptakan Kornea Manusia dari 3D Printing Untuk Pertama Kalinya

“Apa yang ditawarkan kabin yang bisa dilepas dalam kasus itu? Pada ketinggian rendah, tidak mungkin itu dilakukan. Lalu, bagaimana jika kabin itu mendarat di tengah kota?” ujar Herve.

Secara teknis, konsep Tatarenko juga bakal menemui kerumitan untuk membangun sistem keamanan seperti itu. Jikapun secara teknis memungkinkan, tetap akan menambah masalah dalam hal pemeliharaan, jelas Herve.

Selain itu, bakal ada bobot tambahan dalam sistem yang diusulkan. Padahal berat adalah segalanya bagi produsen pesawat. Setiap tambahan bobot kendati hanya beberapa kilogram, membutuhkan lebih banyak tenaga dorong yang artinya lebih boros bahan bakar. Inefisiensi bahan bakar adalah hal yang paling dihindari oleh maskapai penerbangan.

(DWK)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *