Hasil survei menunjukkan bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap penggunaan Electronic Vehicles masih rendah

Teknologi.id – Berdasarkan hasil survei dari perusahaan konsultan management Solidiance, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia masih membutuhkan waktu yang panjang untuk diterapkan berkaitan minat masyarkat yang rendah.

Survei tersebut diikuti oleh 200 responden Indonesia yang terbagi menjadi 100 pemilik motor dan 100 pemilik mobil. Sebanyak 63 orang pemilik sepeda motor mengetahui bahwa motor listrik dijual di Indonesia, namun sebanyak 83% dari jumlah tersebut tidak berminat untuk membeli sepeda motor listrik dalam satu sampai dua tahun ke depan.

Para pemilik mobil ternyata menunjukkan minat yang lebih rendah yakni sebanyak 46 orang mengatakan mengetahui adanya mobil listrik yang dijual di Indonesia, dan 96% dari jumlah tersebut mengatakan tidak berniat membeli mobil listrik dalam kurun waktu yang sama.

“Untuk motor listrik mayoritas mereka tahu, kalau mobil listrik ternyata banyak juga yang tidak tahu, ya fifty-fifty. Kami juga melihat bagi mereka yang tahu, seberapa yang masih mau berganti dari kendaraan fosil fuel vehicle ke EV, sebagian besar tidak mau untuk berpindah,” kata Konsultan Senior Solidiance Yosua Danny Devara di Jakarta, pada CNN Indonesia.

Berdasarkan penuturan Yosua dari hasil survei tersebut, ada tiga faktor utama yang menyebabkan masyarakat Indonesia enggan untuk menggunakan EV. Faktor pertama adalah daya jelajah EV. Sepeda motor listrik dengan baterai berkapasitas 2 kWh hanya mampu menempuh jarak 60 kilometer. 60 kilometer ini dari baterai penuh hingga kosong, butuh waktu pengisian lima sampai tujuh jam.

Berdasarkan hasil survei sebanyak 68 persen dari 63 pengguna sepeda motor mempermasalahkan kemampuan jelajah sepeda motor listrik. Faktor yang sama juga diungkapkan oleh pengguna mobil dengan presentase 78 persen dari 46 pengguna.

Baca Juga  #JusticeForAudrey Jadi Trending Topic di Twitter, Ada Apa?

Selain itu keterbatasan SPLU (Stasiun Penyedia Listrik Umum) menjadi faktor kedja sulitnya menerapkan transportasi listrik di Indonesia. SPLU hingga kini masih minim di Indonesia. Tercatat pada Desember 2017, terdapat lebih dari 1.300 SPLU di seluruh Indonesia yang tersebar di 24 kota. Sekitar 71 persen dari SPLU tersebut berada di DKI Jakarta. 

Faktor ketiga adalah belum tersedianya layanan cicilan untuk pembelian kendaraan listrik dari banyak perusahaan financial yang ada di Indonesia. Padahal sebanyak 80% masyarakat Indonesia membeli kendaraan secara kredit.

Baca juga: Pemerintah Seriusi Kembangkan Mobil Listrik, Presiden Jokowi Tes Mobil Listrik ITS.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.